Home

Hai semuanya!! ^^ Bertemu lagi dengan Little,dalam acara Kuliah Subuh   apa ya? *Gubrakk.Langsung saja ke TKP!! *Parto:ngapain tu anak tiru2 trademark gue?? Little:sori lhaa….

Tittle:

-Story of Twins-

Summary:

“Aduh kenapa memukulku lagi?!!”

“Hmhh”

“Memang tidak sakit apa?! Dasar Hitler!!”

“Apa kau bilang?!”

“Dasar kakak ini titisan Joseph Stalin!! KEJAM!!!!!”

“Dan kau adik paling idiot sedunia! Kalaulah kau tidak macam-macam mana mungkin aku menghajarmu?!!”

“Tapi aku ini kan adikmu,tega sekali………”

“Idiot”

“Kakak Hitler!!!!!!!!!!”

Part 1 : DISPUTE

“Ibu!!!” teriak Ruby sekencang-kencangnya dari dalam kamarnya.Lalu ibu yang ada di dapurpun bergegas berlari menaiki tangga menuju tempat kedua anaknya itu.Tampak disana dua anak laki-laki yang saling mendorong dan melempar barang dan saling pukul.Sejenak ibu mematung,baru dua puluh menit yang lalu ia menasehati anak kembarnya itu tentang saling menghargai dan sebagai saudara mereka bukanlah siapa yang pertama atau kedua,bukan siapa yang kakak atau adik bahkan tidak ada istilah aku lebih tua darimu jadi kau harus menuruti  semua yang aku katakan.

Ibupun menggelengkan kepala untuk yang kesekian kalinya di hari Minggu yang cerah nan berisik ini.Pasalnya semua barang-barang yang ibu suruh untuk ditata karena terlihat berantakan itu sekarang malah berceceran di lantai sampai-sampai bantal dan gulingpun ikut

terkapar tak berdaya.Bisa dikatakan kamar mereka seperti kapal meledak,bukan pecah lagi.Dan melihat itu ibu langsung melerai juga memisahkan mereka.

“Sudah,sudah!Kenapa kalian ini?!Baru beberapa menit yang lalu kalian berbenah sekarang semua barang-barang sudah ada di bawah lagi??Riku,ada apa ini?”

Bukannya menjawab,Riku malah cemberut sambil menunjuk saudara kembarnya itu,sekaan menuduh semua ini adalah keonaran yang dirakit oleh adiknya sendiri.Lalu melihat bahwa dirinya terkena sebuah hujatan telak dari kakak yang lebih tinggi darinya itu Rubypun berjalan mendekati ibu dengan secarik kertas yang author yakini adalah PR Matematika yang baru saja dihancurkan Riku.”Ibu….lihat…masa bukuku disobek-sobek begini? PRnya kan jadi berantakan…kakak keterlaluan bu….”rengek Ruby semelas mungkin supaya ibu percaya padanya dan memarahai Riku habis-habisan.

“Apa? Itu tidak benar ibu!! Jangan percaya bualannya.Justru Rubylah yang mencurat-coret makalahku,lihat ini ibu….” kata Riku sambil menunjukan tugas sekolahnya yang isinya sudah tidak karuan itu dan sangat jelas terpampang kata “Riku kakak paling bodoh sedunia!” yang ditulis dengan huruf balok oleh Ruby.”Padahal kan tugas ini sudah susah payah kubuat.Ibu tau sendiri kan aku selalu tidur larut kemarin-kemarin.Apa aku terlihat seperti seorang penghujat??” tambah Riku dengan memasang wajah melas dan sedikit sentuhan mata kucingnya.

“Kak Riku bohong bu!!” bantah Ruby tidak terima.

“Dan satu hal lagi,mobil-mobilanku dibanting-banting Ruby bodoh itu.Keterlaluan!”

“Tapi kan aku tidak sengaja menjatuhkannya bu.Lagipula sudah anak SMU masih main sama mobil-mobilan,dasar anak kecil!!Mana ada perempuanyang mau sama kakak? Wee….” kata Ruby sambil menjulurkan lidahnya untuk meledek Riku.

“Diam kau bodoh!”

“Tuh kan…sekarang ibu tau siapa yang galak…”

Persimpangan di pelipispun mulai muncul.Sudah sejak tadi ibu menahan-nahan marahnya dengan mengepalkan tangan sekeras mungkin.Dengan wajah geram ibu berusaha tetap bersikap tenang dengan kelakuan kedua anak kesayangannya itu.Perlahan ibu mulai membuka kelopak matanya yang sejak tadi tertutup,mendengar suara baik Riku maupun Ruby sudah tidak ada di pendengaran ibu lagi.Mereka sudah diam dengan sendirinya.

Sudah kesejuta kalinya mungkin mereka bertengkar (kalau bisa dihitung dan kalau memang mau).Meributkan masalah inilah itulah,sampai hal kecil seperti meminjam barang tanpa ijinpun diributkan.Padahal teori ibu selama ini “barang Riku barang Ruby juga baik luar dan dalam” dan itu sangat dipertanyakan apakah termasuk PR dan hal yang lebih privasi lagi? (kemana arah ilustrasi ini?)

Memang.Tidak seperti anak kembar identik lainnya yang selalu mengingkan baju-baju yang sama dan berbagi makanan,Riku dan Ruby,sebagai kakak dan adik,hubungan mereka sungguh tidak pantas ditiru.Bagaimana tidak,setiap hari betengkar,ribut,dan tidak rukun sama sekali.Dan dari mereka berdua tidak ada yang mau mengalah,Ruby selalu dianggap aduan oleh Riku sedangkan Riku selalu dianggap kambing hitam oleh adiknya,Ruby.Padahal kalau dilihat dari kata-katanya jelas bahwa aduan dan kambing hitam adalah saudara kembar layaknya mereka

berdua.Dan sebagai kakak Riku malah bersikap seperti anak kecil yang tidak mau mengalah,jelas membuat Ruby kesal dan memicu pertengkaran lain.

“Kalian kan sudah dewasa,sudah SMU,tidak baik betengkar terus! Seharusnya kalian itu saling membantu,bukan saling mencela atau saling menuduh.Apa di sekolah tidak diajari hal begitu? Ibu sudah pusing dengan sikap kalian ini.Mau sampai kapan bertengkar terus? Apa kata ayah nanti jika ibu tidak bisa mengurusi kalian? Kalian tidak kasihan pada ibu? Terutama,kau Riku.Jangan terlalu kasar pada adikmu.Biar bagaimanapun kau pasti membutuhkannya.Dan Ruby juga,jangan pernah meledek kakakmu lagi.Mengerti?!”jelas ibu panjang lebar.

“Iya ibu….” jawab mereka berdua kompak (dan inilah satu-satunya kekompakan mereka)

Riku lalu menjulurkan tangan kanannya dan diarahkan pada Ruby.Sementara Ruby hanya menaikan sebelah alisnya tidak mengerti dengan apa yang Riku lakukan.Ingin berjabat tangan tanpa melihat wajah? Atau berlebaran di hari Minggu April? Atau pamer bahwa kulitnya lebih putih dan lembut daripada Ruby? Atau mungkin cari muka di depan ibu dengan berpura-pura meminta maaf lebih dulu? Ruby memutar otak,berusaha mencari alasan kenapa Riku ingin menyalaminya lebih dulu sedangkan predikat keras kepala ada dalam dirinya.Pertanyaan Ruby sekarang ini,”apa Riku sudah tobat?”

“Apa itu?” tanya Ruby pura-pura bodoh.

“Aku minta maaf bodoh!”

“Kalau mau minta maaf jangan bilang bodoh!”

“Hmf!” Rikupun menarik kembali tangannya.

  • ·
  • ·
  • ·

“Tadi untung saja guru Matematikanya tidak masuk karena sedang ada urusan…” kata Ruby.

Ya,memang siang ini kakak adik itu pulang bersama-sama.Mereka takut kalau ibu menanyakan alasan kenapa kalian tidak pulang bersama padahal kalian berada di satu sekolah meski tidak sekelas.Selama ini memang sudah banyak sekali sangkalan-sangkalan yang Ruby atau Riku berikan seperti Riku sedang ada bimbel,atau Ruby latihan basket dulu dan lain lain.Dan dari semua itu kita kembali pada teori ibu tadi.Meski hobi mereka tidaklah sama dan sangat mustahil jika si kembar ini menyukai hal yang sama.Riku dan Ruby hanya tidak mau membuat ibunya kecewa.

“….” Riku tak bergeming.

“Kak!” panggil Ruby.

“Berisik”

“Huhh! Blagu!”

Begitu saja seterusnya.Berjalan bersampingan tapi tidak satupun dari mereka yang angkat bicara.Terutama kakak,dia memang jarang mengobrol,jarang bercanda,jarang beramah tamah,jarang berbaik hati pada Ruby tapi sering melototi adik tercintanya itu.Dan karena Ruby bukanlah orang dingin seperti kakaknya sepanjang jalan ia hanya cemberut menunggu Riku berbicara padanya atau sekedar memanggil Ruby.Walau sekesal apapun Ruby tetap kesepian jika Riku tidak menganggap dirinya seperti ini.

“Apa-apaan sih?! Kaya berjalan sama mayat…” omel Ruby dalam hati dan diakhiri dengan dengusan sapinya.

Tak lama,merekapun tiba di depan pagar rumah.Rumah yang terbilang besar dengan taman yang cukup luas juga pohon beringin yang usianya lebih tua dari si kembar membuat rumah mereka tampak seram.Tapi selama ini tidak pernah ada sesuatu yang aneh dengan kediamannya itu,malah mereka mengingnkan ditanam lebih banyak pohon beringin karena dahan-dahannya membuat kamar mereka terasa sejuk.

Pagar berwarna abu-abu setinggi 3 meter itupun dibuka Ruby.Kemudian mereka berdua berjalan masuk menuju pintu rumah yang di kedua sisinya terdapat pot bunga.Setelah sampai tepat di depan pintu,mereka berdua terhenti dan saling memandangi.Riku memandangi Ruby seolah berkata “cepat buka pintunya atau aku hajar!” Terlihat jelas oleh Ruby kalau tatapan yang sedang kakak lancarkan padanya tersirat makna perintah untuknya.

“Cih! Dia pasti menyuruhku untuk membukakan pintu” gerutu inner Ruby dan kini ia tampak mengerucutkan bibirnya.

Setelah lima menit,akhirnya Ruby memutuskan untuk membuka pintu dan kini tangannya sudah berada di gagang pintu yang besar itu.Tapi belum sempat Ruby membukanya dari arah gerbang terdengar suara teriakan seseorang yang memanggil nama mereka.Lantas merekapun langsung menoleh ke arah datangnya suara itu.

Tampak seorang perempuan berpakaian seragam yang sama dengan Riku dan Ruby melambai-lambaikan tangannya.”Riku…!!” teriak perempuan itu.

Terdengar cekikikan di telinga Riku saat itu.Dan ia yakin kalau suara itu tidak lain tidak bukan adalah suara tawa Ruby yang membuat ia kesal karena pasti dia sudah berpikir yang tidak-tidak dengannya.

PLETAKK!! Riku langsung membungkam mulut Ruby dengan pukulan di kepalanya.Dan sukses membuat adiknya mengutukinya dengan bermacam-macam kosakata tidak pantas di dengar seperti @#?$#*{\

Lalu Riku berjalan menuju arah perempuan yang memanggil namanya itu sedangkan Ruby hanya duduk di lantai sambil memegangi kepalanya yang sakit.”Kakak sialan!” rutuknya kesal.

Sampai di gerbang Rikupun mengubah air mukanya yang semenjak tadi terasa kecut karena kekesalannya pada Ruby menjadi seramah mungkin.Ya,meski ia tidak seperiang adiknya tapi mana mungkin ia marah-marah juga di depan orang lain apalagi itu kak Shinta.

“Ada apa kak Shinta?” tanya Riku penasaran.

“Um…tadi dimarahi Pak Hendra ya?” kata perempuan yang diapanggil Riku kak Shinta itu to the point.

“Kak Shinta tau?”

“Aaa….itu…” katanya terputus.

“Dasar! Ruby itu memang lebih dari aib!” bentak Riku dalam hati.Ia yakin kalau Rubylah yang sudah memberitahu kak Shinta tentang itu dan sebentar lagi ia akan mengadu pada ibu dan berkata,”bu masa tadi kakak dimarahi pak guru…tidak teladan ya…”

“Kak Shinta! Terima sajalah,sebenarnya kakak Riku-ku tercinta itu baik kok! Pintar Kimianya pula!” teriak Ruby kencang dari tempat ia duduk tadi.

“Ah?”

“…” Riku menaikan sebelah alisnya.

“Ruby! Apa kau bicarakan?! Dan kenapa kau diam disitu? Seperti sedang menghindar!” jawab kak Shinta dengan nada bicara yang dikencangkan karena jarak mereka lumayan berjauhan.”Riku,kau baik-baik saja kan?”

“Ya,untuk sekarang ini aku tidak menderita penyakit apapun kecuali sindrom ingin mengha..tidak jadi” Riku memutus perkataannya.

“Ha ha…” kak Shinta tertawa hambar.

“Kak Shinta! Sudah belum?!” teriak Ruby di seberang sana antusias.

“Egh…” urat-urat kekesalan Rikupun mulai tampak dan ini bukan ide yang bagus untuk membuat Riku dongkol.

“Aku tidak mengerti Ruby!”

“Ah! Masa sih? Bukannya kak Riku-ku tercinta itu sedang nembak kak Shinta denga kata-kata romantis kaku?! Sebenarnya sudah lama lo perasaan itu terpendam,hi hi..!”

“Apa?”

“DAMN!!” inner Riku mulai tak terkontrol.

“Sudah ya…! Kapan-kapan cerita tentang kencan pertamanya ya..!!” Ruby pun bergegas membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.

BLAMM.Pintupun tertutup dengan suara keras. Dan Ruby langsung lari terbirit-birit menuju kamarnya yang yang tak lain adalah kamar Riku juga dan mengunci akses masuk satu-satunya kamarnya rapat-rapat.

“Aa…Riku,apa benar seperti itu?” tanyanya ragu-ragu.

“Emh…maaf  kak Shinta,dia itu memang tukang bohong.Jangan dengarkan Ruby bodoh itu lagi…” Riku mendadak terlihat salting.

“Ohh…”

“Kalau begitu aku permisi dulu…” kata Riku langsung melangkah masuk ke rumahnya lagi.

Dengan langkah pasti Riku berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai atas.Dan sesampainya di depan pintu,untuk yang kedua kalinya ia dibuat dongkol karena jalan masuk ke kamarnya dikunci begitu saja.Ya,siapa lagi kalau bukan ulah Ruby yang berusaha menghindar dari amukan kakaknya.

Tok tok!! Riku mengetuk pintu itu wajar dan membuat penghuni kamar selain dirinya itu bergidik.Sudah dipastikan kalau Riku akan memarahi adiknya habis-habisan bahkan menghajarnya sampai babak belur.Begitulah yang terlinats di pikiran Ruby sekarang ini.Ia tidak berani membukakan pintu dan lebih memilih pura-pura tidur.

“Ruby…buka pintunya”

Tidak ada jawaban.Rikupun lalu mengetuk-ngetuk benda persegi di depannya itu lebih keras lagi tapi lagi-lagi tidak ada jawaban.”Ruby..aku tau kau mendengarku,jadi cepat buka pintu ini atau aku akan mematahkan tulang lehermu” ucap Riku dengan nada sedatar mungkin.

“Apa? Mematahkan tulangku?”ulang Ruby sambil memegangi lehernya ngeri.

“Baiklah,sepertinya ini yang kau inginkan…”

Cklek! Pintu yang  terkunci itupun langsung terbuka lebar dan memotong ucapan Riku.Tak mengambil waktu lama Riku langsung memasuki kamarnya dan merebahkan diri di kasur.Ruby yang sempat memikirkan dirinya akan dihajar habis-habisan oleh kakaknya itu kini dapat bernapas lega.Ia kira Riku akan segera menghampirinya dan melayangkan pukulannya ke kepala bahkan wajah Ruby sampai biri-biru.Tapi sekarang ini kakaknya malah tiduran di kasur dan terlihat mengantuk pula.

“Hebat.Kakak tidak mengamuk” batin Ruby.”Biasanya kan kak Riku auranya langsung berubah menjadi warna hitam dan akan menatapku tajam-tajam lalu tersenyum layaknya psikopat.Dan rasanya lebih seram dari seringai vampir atau wajah mesum para laki-laki hidung belang (?)” tambahnya.

  • ·
  • ·
  • ·

Riku,Ruby,kenapa piringnya hanya dilihat saja?” tanya ibu setelah melihat kedua anaknya itu sejak tadi cemberut di meja makan.

“Ha ha ha…” lagi-lagi hanya dijawab dengan tawa hambar Ruby.

“Jangan bilang kalian bertengkar lagi” kata ibu kemudian dengan nada horor.

“Ahh…tidak kok bu,iya kan kak?” jawab Ruby lalu menoleh pada kakaknya yang saat itu memandanginya horor juga.

“Seperti yang ibu lihat” respon Riku terkesan datar.

Saat itu juga Ruby tertunduk.Dan seperti yang ia lihat kalau kakaknya itu sangat marah padanya.Dilihat dari tatapan Riku yang cukup membuat Ruby bergidik ngeri itu ia rasa ia sudah

melakukan kesalahan besar terhadap saudara kembarnya itu.Terlebih,ia sudah menyinggung hal yang membuat Riku dihukum karena keterlambatan tugasnya di depan ibu.

Kemudian makan malam yang terkesan canggung itupun berakhir.Namun kemarahan kakak beradik itu belumlah usai.Bahkan Riku semakin tidak mau meladeni Ruby,yang selama ini selalu meledeknya dan membuatnya merasa panas lalu berbalik membalas celaannya.

Mereka berdua berjalan menuju kamar yang ada di lantai atas.Setelah melewati tangga,Ruby yang berjalan lebih dulu dari kakaknya itu kini ia memperlambat langkah kakinya dan akhirnya menyamai Riku agar mendapat perhatian.Tapi meski telah berjalan sejajar,kakak yang berambuat hitam kelam itu tak melirik sedikitpun,ia berjalan seolah tidak ada seseorang di sampingnya.

“Kak!”

“…..”

“Kakak!”

“…..”

“Kak Ri…”

“Tutup mulutmu,kau membuatku muak” sela Riku tanpa menunggu perkataan adiknya selesai.Dan saat itu juga ia berjalan mendahului Ruby kemudian membuka pintu yang langsung ditutupnya kembali.

BRUKK!! Lantas Ruby tersentak kaget seketika meski ia melihat kakaknya menutup pintu kamarnya itu.Sekarang ia merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan kemarin.Dia sudah membuat tugas kakaknya yang harus dikumpulkan esok hari hancur berantakan.Padahal guru bidang study terkait bukanlah orang yang bisa memberi toleransi kepada muridnya dengan mudah dan Ruby tau itu.Bukan hanya sekedar tugas saja,bahkan benda yang paling Riku sukai yaitu mobil-mobilan berwarna merah tua yang 4 tahun lalu dihadiahkan kak Shinta padanya saat ulang tahun pun kini tinggal kepingan-kepingan tidak berbentuk.Dan Ruby sangat tau kalau benda itu sungguh istimewa bagi kakaknya karena selama ini ia tidak boleh meminjam bahkan menyentuhnya sedikitpun (bilang saja pelit).

Menyesal.Memang itulah yang paling tepat menggambarkan suasan hati Ruby.Ia tidak menyangka kalau kakaknya yang selama ini selalu bertengkar dengannya akan benar-benar marah sampai ia tidak dipedulikan.

Setelah memasuki kamar Ruby pun berjalan ke arah tempat tidurnya dan membaringkan diri disana.Sesekali ia melirik ke meja belajar kakaknya itu,Riku tampak sibuk dan tidak bergerak sedikitpun dari kursinya kecuali jemari tangannya yang menari-nari di atas keyboard sejak 3 jam yang lalu.Benar.Bukan hanya makalahnya saja yag dicoret-coret Ruby tapi file-file Riku juga di acak-acak.Dan sudah sejak tadi Ruby perhatikan kakaknya begitu serius mengerjakan tugasnya itu,ia merasa kasihan.Sudah dimarahi,harus bekerja dua kali lipat pula.Ruby merasa kalau dia sudah keterlaluan pada kakaknya.

Dahi Ruby tampak berkerut.Sebentar kemudian ia melihat lagi langit-lagit kamarnya yang berwarna kebiruan.Tidak seperti biasanya kalau dia begitu khawatir pada kakaknya yang sedang marah itu.Dan jika kak Shinta tau hal ini mungkin dia juga akan menyalahkannya dan semakin

galaulah Ruby.Meski kak Shinta hanya tetangga tapi seperti yang mereka rasakan kalau Ruby dan Riku sudah menganggapnya sebagai kakak perempuan mereka.Tapi kalau sedang bertengkar sepertinya kak Shinta lebih membela Riku,pikir Ruby sejadinya.

Jam sudah menunjukkan pukul 11.45,tapi ia lihat kalau Riku tetap anteng dengan layar LCD-nya.Dan itu membuat Ruby merasa terganggu karena ia tidak bisa tidur jika lampu kamar tidak dimatikan.Tapi ia berpikir kembali untuk mengatakan itu pada kakaknya yang sejak masuk kamar tidak bicara sepatah katapun.”Hmh…aku ikut begadang” dengus Ruby sedikit kesal.

Tidak lama ia mengatakan itu,tiba-tiba Riku berbalik ke arah Ruby seolah ia mendengar apa yang baru saja adiknya itu katakan.DEG.Jantung Ruby berdebar seketika ia melihat wajah kakaknya yang tampak semakin horor seiring larutnya malam.Ia benar-benar dibuat kaget.

“A..ada apa?” tanya Ruby tergagap-gagap.

“Ruby”

“I..iya?”

“Buatkan aku kopi”

“Apa?”

“Apa kau sudah tuli,buatkan aku kopi,bodoh!”

Tampak persimpangan di dahi Ruby,di tengah perasaan bersalah pada kakaknya itu ternyata tidak menutup kemungkinan Riku menjadi sangat menyebalkan secara tiba-tiba,dan Ruby tidak memperhitungkan hal ini.

“Kenapa tidak buat sendiri saja? Kau kan punya kaki dan tangan…” jawab Ruby ketus.

“Hemh!!”

Hanya dengusan yang didengar Ruby dari  kakaknya yang kemudian berlalu meninggalkan tempat duduknya.Karena sekarang ia sudah tidak melihat orang yang berwajah sama dengannya itu iapun bangun dari tidurannya dan melangkah menuju komputer Riku yang ia biarkan begitu saja tanpa ada ancaman “awas jika berani menyentuh kompiku,akan kuhajar kau Ruby!!”.Biasanya Riku berkata demikian jika ia terpakasa meninggalkan benda kotaknya itu.Tapi karena mungkin terlalu banyak pikiran,ia berlalu begitu cepat di depan Ruby.

“Memangnya tugas kakak belum selesai ya?” tanya Ruby pada dirinya sendiri.

Setelah ia mendekati meja,iapun menyapukan pandangnnya ke seluruh layar komputer yang ada di hadapannya itu.Tapi tak lama kemudian ia merasa sangat terkejut dengan penampkan yang terlihat di monitor.Karena tidak percaya dengan pengelihatannya atau karena mungkin sudah malam Rubypun menggisik matanya perlahan dan kembali menajamkan pandangannya ke benda kotak elektronik yang Riku beri nama “kompikuri” (Ruby pikir itu memang norak,memberi nama komputer dengan namanya yang dibalik.).

“Apa?!!” teriak Ruby histeris. “Ternyata sejak tadi Riku hanya chattingan dengan kak Shinta?!!”

 

~TBC~

 

berkomentarlah...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s