Home

Sore menjelang Magrib kawan-kawan sekalian!! Hn..sebelum benar-benar dug adzan Little mau post cerpen terbaru Little nih…tapi genre ceritanya kayaknya rada2 kekerasan deh….Tapi gak sampai bikin biru2 riders sih,cuman anu…ng…he he…

Dan juga cerita Little yang berjudul SIN ini,terinspirasi oleh sebuah artikel yang judulnya lupa lagi nih,tapi ngebahas tentang hari kiamat gitu.*Auuuuuu (suara srigala) Penasaran? Klik saja tulisan “Lanjutkan membaca” disamping ^^

SIN

Kenapa kita harus memiliki ini?”

“Karena kau belahan jiwaku”

“Kenapa?”

“Mungkin kita sudah ditakdirkan untuk masuk neraka bersama-sama….”

¨

¨

¨

            Sudah lima tahun aku hidup hanya dengan ayah dan kakak laki-lakiku.Mamiliki mansion yang dapat dikatakan sebagai istana dengan segala kemewahannya seperti ini tidak ada artinya lagi bagiku.Sekaya apapun keluargaku aku tidak pernah peduli dengan itu semua,dan tak keberatan jika aku harus menjadi gelandangan karena memilih sesuatu yang aku kehendaki.

Seperti yang kukatakan bahwa aku tidak pernah bahagia.Semua orang yang tersisa dalam hidupku,ayah,kakak,mereka semua selalu sibuk bekerja siang malam dan jarang berada di rumah.Memang terkadang aku bangga dengan itu,ayahku seorang Kepala Kepolisian sedangkan kakak bekerja sebagai dokter di rumah sakit ternama.Memberikan pelayanan dan menolong orang yang membutuhkan adalah pekerjaan yang mulia.Aku tahu itu.

Tapi,berada dalam rumah semegah ini tak banyak yang bisa kulakukan.Justru bangunan ini hanyalah tempat penyiksaan untukku.Tinggal bersama dua orang makhluk yang selama hampir lima tahun ini selalu membuatku menderita.Dan dengan segala kata-kata manis yang mereka buat juga air mata yang mereka teteskan di hadapan keluargaku,aku tahu kedua perempuan itu tak lebih dari manusia rendahan yang menghabiskan sisa hidupnya untuk mengumpulkan harta sebanyak mungkin.Bukan! Tapi merebut semuanya dariku.

“Harun….sampai kapan kau akan diam seperti ini? Tak bisakah kita bicarakan hal-hal romantis? Kencan kita terasa hambar sekali….” suara perempuan itu begitu manja di telingaku.

“…..” akupun menghentikan langkahku.

“Ah..” perempuan itupun ikut berhenti dan memandangiku heran.

“Noni”

“Ya”

“Siapa saja yang tahu kita pacaran?”

“Tentu saja semuanya! Seluruh mahasiswa di kampus ini tau kalau Noni berpacaran dengan Harun Fauzan Nurrahman.Mahasiswa paling berprestasi di Universitas Gadjah Mada dan tentu saja kau sangat tampan.Hm,hm….”

“Nah,Noni.Jika kita berdua putus apa kau akan memberitahukannya pada semua orang juga?”

“Ahh…apa? Kenapa kau bicara seperti itu? Apa kau sudah tidak mencintaiku?”

“Tidak.Itu hanya bercanda”

“Apa-apaan itu?! Kau selalu membuatku jantungan Harun…”ucap gadis itu lalu memeluk erat tanganku.”Tapi,aku akan selalu mencintaimu.Aku akan melakukan apapun agar kau senang.Iya,aku janji!”

“Seperti itu..”

Ya,benar.Gadis itu memang pacarku.Dia adalah mahasiswi paling populer dan digandrungi banyak lelaki.Mengingat gadis tersebut adalah salah satu anggota Nicha-Nicha Chubby,vocal group yang sedang di puncak ketenarannya itu.Dan dia secara sukarela keluar dari Chubby demi ingin mennghabiskan waktunya bersamaku.Itu singguh hal yang bodoh memang.

Aku tidak habis pikir  kenapa dia begitu tergila-gila padaku dan lebih memilihku daripada karirnya sendiri.Perihal cinta,yang tak kenal logika.Dia mengatakan kalau dia rela melakukan apapun agar aku senang.Perempuan yang kukenal dengan nama Noni itu benar-benar mencintaiku dengan segenap jiwa raganya.Aku tidak ragu.

Setelah beberapa langkah dari halaman kampus,tempat aku dan Noni bertemu,kamipun sampai di kantin.Meja nomor 5 sepertinya sudah ia persiapkan.Dan persis dengan yang sudah kuduga sebelumnya kalau disini hanya ada aku dan Noni.Di tempat seluas ini,makan siang bersama seorang gadis pujaan setiap orang? Harusnya aku senang,tapi kurasa tidak.Justru aku selalu memikirkan bagaimana tanggapan mahasiswa lain mengenaiku,termasuk sebagai murid paling baik dan anak laki-laki kedua dari seorang Kepala Kepolisian dan aku juga tidak melupakan  kakakku yang memiliki banyak kenalan dokter.

Noni tidak pernah mengerti posisiku.

“Harun,kau tidak memakan makananmu”

“Ahh..ya.Sepertinya aku harus…”belum kata-kataku selesai kuucapkan Noni langsung menarik kerah pakaianku sehingga wajah kami saling berdekatan dan hanya kutumpukan kedua tanganku ini di antara makanan yang Noni pesan.Karena meja ini sempat bergetar,kini semua orang yang ada di tempat ini memperhatikanku.Hhh…tidak.Jangan hal bodoh lagi.

“Aku akan menyuapaimu”

“….ke toilet”

¨

¨

¨

            Hari ini,dan sejak 50 hari yang lalu aku adalah mahasiswa UGM.Sebenarnya usiaku satu tahun lebih muda dari para mahasiswa semester awal.Aku lulusan SMA akselerasi dan hanya menghabiskan dua setengah tahun untuk duduk di sekolah tingkat atas.Sebagai murid teladan aku cukup mengangkat nama baik keluargaku dan dalam waktu 51 hari ini aku sudah ditawari untuk menjadi asisten dosen.Ini memang yang aku harapkan,menjadi anak laki-laki kebanggan ayah dan perlahan aku akan mulai memikirkan bagaimana caranya menyingkirkan saudara dan ibu tiriku yang kejam itu.Sekarang aku lebih punya banyak waktu untuk menyusun agenda pembersihan itu.

“Sudah lebih dari satu bulan…” ucapku dalam hati.

Jalanan yang aku lalui begitu sepi.Aku memang tidak pernah peduli jalan pulang seperti apa yang aku lalui.Sore ini akan tetap sama dengan sore-sore sebelumnya.Sudah sejak lima menit yang lalu aku menghentikan langkah kakiku.Suara derapan yang mengikutiku juga terhenti.Terhenti dan aku tau orang yang ada di belakangku sengaja membuntuti.

“Kenapa kau mengikutiku?” tanpa menoleh sedikitpun aku mulai memprotes apa yang  orang itu lakukan.

“Tuan Fauzan Nurrahman”

“Sudah berapa kali kukatakan panggil saja Harun”

“Baiklah.Harun,bagaimana sekolahmu?”

“Maaf,aku terburu-buru” akupun melanjutkan langkahku dan berjalan menjauhi orang yang tidak pernah memberitahukan namanya itu.

“Bisakah kau memberiku makanan?”

Aku sudah muak dengan semua ini.Orang-orang yang ada di sekitarku,bahkan yang masih sayang padaku,semua itu membuatku jengkel.Malam ini ayah tidak pulang karena sedang menyelidiki kasus pembunuhan sedangkan kakak selalu pulang larut.Sudah kupastikan kalau ibu tiri tamak itu akan berbuat yang aneh-aneh lagi padaku.

“Aku lapar Harun”

“Egh!”

Kukepalkan jemari tanganku erat-erat.Dan berusaha meredam urat-urat kemarahan yang tiba-tiba terlihat di pelipisku.Aku benar-benar bingung dengan segala kehidupanku.Terlahir dari keluarga terpandang dan tumbuh menjadi lelaki sempurna,tapi di sisi lain aku adalah orang menyedihkan yang selalu berharap ada keadilan untuk orang-orang yang selama ini membuat batinku tersiksa.Tersenyum dengan keadaan sakit,memang itu yang sering kulakukan.Memang itu yang selalu kutunjukan pada ayah dan kakak.Tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa dan menikmati kasih sayang ibu baru dan saudara yang lebih muda dua tahun itu.Selama ini ayah kira aku baik-baik saja dengan semua ini.Semuanya salah!

“Tersenyum seperti waktu itu.Tidak ada yang mengajarimu untuk membalas kejahatan dengan kejahatan Harun.Kau akan tampak seperti mereka.Kau masih memiliki Allah,mintalah kepada-Nya.Dia lah satu-satunya tempatmu untuk berkeluh kesah,Dia lah satu-satunya tempat untukmu mencurahkan segala perasaan,tempat terbaik bagi hamba-Nya yang taat.Sejak kecil kau dibesarkan di lingkungan yang baik,bahkan kau bilang kakekmu memasukanmu ke pesantren.Dan aku yakin kau punya benteng yang kuat untuk menolak segala hawa nafsu yang dapat menjerumuskanmu pada perbuatan dosa.Jangan sia-siakan apa yang telah kau dapat,kedudukan ilmu lebih berharga dari harta Harun.Berdo’alah pada-Nya,mohon agar saudara dan ibumu diberikan hidayah….”ucapnya lembut.

“Tidak seperti yang kau bayangkan! Kau selalu menasehatiku,tapi kau tidak mempermasalahkan benar dan salah yang aku lakukan!”tiba-tiba aku memotong perkataan orang itu.”Aku tau,sebenarnya kau hanya memanfaatkanku bukan?”

“Hm…”diapun tersenyum.

“Kau tidak perlu tersenyum seperti itu….”

Akupun berjalan kembali dan tak mempedulikan orang yang kuanggap aneh dan selalu mencampuri urusanku itu.Memang,dilihat dari pakaiannya yang lusuh dan penampilannya yang tidak rapi dia adalah seorang gelandangan.Tapi,sebagai orang yang hidup sengsara,tak kulihat wajahnya muram ataupun bersedih dengan keadaannya,terutama fisiknya yang memiliki kekurangan.Ya,dia memang buta.Dan mata sebelah kanannya selalu ia tutupi dengan kain yang tampak kusut karena ia bilang itu adalah luka yang sangat memalukan.Dan aku tidak bertanya lagi tentang itu.

Memang aku mengenalnya sejak masih bersekolah SMA.Dia bisa dianggap teman bicaraku mengenai hal pribadi.Karena selama ini tidak pernah ada yang tau kalau ibu dan saudara tiriku itu sangat tidak baik padaku selain gelandangan itu.Dan semenjak aku mengenalnya,entah mengapa rasanya aku ingin sekali membalas semua  perlakuan orang-orang tamak itu,padahal gelandangan buta itu selalu memberiku nasehat yang baik seakan ia peduli padaku.Tapi di memoriku,perkataannya itu selalu direspon dengan arti “balas dendam”.

“Harun…” panggil orang itu dengan nada lembut.

Lagi-lagi langkah kakiku tertahan.”Tunggulah,aku akan membawa sesuatu untukmu” jawabku sambil melanjutkan jalan.

“Terima kasih”

Yang sangat aku herankan dengan orang itu adalah ia tidak pernah memberi tahu siapa namanya dan selalu meminta makan padaku seolah hanya aku saja yang peduli padanya.

~TBC~

*buru2

berkomentarlah...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s